Selasa, 14 Januari 2014

PSIKOLOGI UMUM

Posted by cempaka20 On 15.36

Psikologi umum



Disusun oleh :

1.      Ramdhan dwi R                        1201411006
2.      Shifa hafidzah                           1201411090
3.      Embun melati widiasih   1201413002
4.      Etika resti hapsari                     1201413003
5.      Hany iqomatul                          1201413029
6.      Yoga miftahul habib                  1201413041








FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2013



KATA PENGANTAR

Pertama kami mengucapkan puji syukur atas kehadirat Tuhan YME, atas segala kebesaran dan kelimpahan nikmat yang diberikan-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah Psikologi umum yang berjudul “INTELEGENSI” dengan baik.
Kami menyadari bahwa penulisan makalah  ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan penulisan  makalah ini.
Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah  ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita. Aamiin.


                                                         
Semarang,













DAFTAR ISI


HALAMAN JUDUL............................................................................................... 1
KATA PENGANTAR........................................................................................... ..2
DAFTAR ISI........................................................................................................... 3
BAB I PENDAHULUAN......................................................................................... 4
1.1. Latar Belakang Masalah...................................................................................... 4
1.2. Tujuan Penulisan................................................................................................. 4...........            
BAB II PEMBAHASAN.......................................................................................... 5
2.1 Intelegensi ......................................................................................................... 5
2.2 Teori-teori faktor ............................................................................................... 6
2.3 Teori orientasi proses ......................................................................................... 7
2.4 Pengungkapan inteligensi ................................................................................. .7

BAB III PENUTUP.................................................................................................. 8
      3.1. Kesimpulan......................................................................................................... 8
      3.2.  Saran................................................................................................................. 8
















BAB I

PENDAHULUAN


1.1.1      latar belakang masalah

Manusia diciptakan dan dengan dilengkapi dengan kecerdasan yang memiliki kemampuan luar biasa, yang tidak dimiliki oleh makhluk lain dan kec erdasan sebagai suatu kemampuan ini pulalah yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya dimuka bumi ini, dengan kecerdasan ini pula manusia dapat menjalani kehidupan yang dinamis dan beadab.cara individu memecahkan masalah,apakah cepat atau lambat faktor yang turut menentukan adalah faktor inteligensi dari individu yang bersangkutan. Berbicara mengenai inteligensi biasanya dikaitkan dengan kemampuan untuk pemecahan masalah,kemampuan belajar ataupun kemampuan berpikir secara abstrak. Intelegensi merupakan kemampuan yang dimiliki oleh setiap insan. Intelegensi ini sangat erat kaitannya dengan kehidupan manusia, keberhasilan, dan kesuksesan. Namun tingkat intelegensi yang dimiliki setiap orang pastilah berbeda. Ini dikarenakan bahwa intelegensi seseorang memang tergantung pada faktor-faktor yang membentuk intelegensi itu sendiri.Oleh karena itu kita perlu memahami tentang teori-teori intelegensi agar dapat meraih keberhasilan dan kesuksesan.

1.1.2      tujuan penulisan

adapun tujuan penulisan makalah ini ,bertujuan untuk :
1.      mendeskripsikan pengertian tentang inteligensi
2.      menjelaskan teori-teori faktor yang mempengaruhi inteligensi
3.      menjelaskan teori orientasi proses
4.      mendeskrispsikan atau mengungkapkan tentang inteligensi

1.1.3      rumusan masalah

beberapa masalah yang dibahas akan dibatasi dalam rumusan masalah berikut ini :
1.      inteligensi
2.      teori-teori faktor
3.      teori orientasi proses
4.      pengungkapan inteligensi



BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Intelegensi
Manusia diciptakan dan dengan dilengkapi dengan kecerdasan yang memiliki kemampuan luar biasa, yang tidak dimiliki oleh makhluk lain dan kecerdasan sebagai suatu kemampuan ini pulalah yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya dimuka bumi ini, dengan kec erdasan ini pula manusia dapat menjalani kehidupan yang dinamis dan beadab.
Secara Etimologis Intelegensi berasal dari bahasa Inggris “Intelligence” yang juga berasal dari bahasa Latin yaitu “Intellectus dan Intelligentia atau Intellegere”. Teori tentang intelegensi pertama kali dikemukakan oleh Spearman dan Wynn Jones Pol pada tahun 1951. Spearman dan Wynn mengemukakan adanya konsep lama mengenai suatu kekuatan (power) yang dapat melengkapi akal pikiran manusia tunggal pengetahuan sejati. Kekuatan tersebut dalam bahasa Yunani disebut dengan “Nous”, sedangkan penggunaan kekuatannya disebut “Noeseis”. Intelegensi berasal dari kata Latin,yang berarti memahami. Jadi intelegensi adalah aktivitas atau perilaku yang merupakan perwujudan dari daya atau potensi untuk memahami sesuatu.
Menurut panitia istilah pendagogik (1953) yang mengangkat pendapat Stern yang dimaksud dengan intelegensi adalah “daya menyesuaikan diri dengan keadaan baru dengan menggunakan alat – alat berpikir menurut tujuannya”. Ini berarti Stern menitikberatkan masalah intelegensi pada soal adjustment atau penyesuaian diri terhadap masalah yang dihadapinya. Pada ornag yang intelegent akan lebih cepat dalam memecahkan msalah – masalah baru apabila dibandingkan dengan orang yang kurang intelegent.
Thorndike (lih. Skinner, 1959) sebagai seorang tokoh koneksionisme mengemukakan pendapatnya bahwa “intelegece is demonstrable in ability of the individual to make good responses from the stand point of truth or fack”. Orang dianggap intelegen apabila responnya merupakan respon yang baik atau sesuai terhadap stimulus yang doterimanya. Untuk memberikan respon yang tepat , individu harus memiliki banyak hubungan stimulus respons, dan hal tersebut dapat diperoleh dari hasil pengalamna yang diperolehnya dan hasil respon – respons yang lalu.
Terman memberikan pengertian intelegensi sebagai “,,, the ability to carry on abstract thinking”(lih. Harryman, 1958). Trman membedakan adanya ability yang berkaitang dengan hal – hal yang kongkrit, dan ability yang brekaitan dengan hal – hal yang abstrak secara baik. Ini berarti bahwa apabila individu kurang mampu berpikir abstrak, individu bersangkutan intelegensinya kurang baik.
Freeman memandang intelegensi sebagi (1) capacity of integrate experiences; (2) capacity of learn; (3) capacity of perform tasks regarded by psycologist as intelektual; (4) capacity to carry on abstrak thinking” (freeman, 1959).

2.2 teori teori faktor
Dari pendapat-pendapat tersebut diatas dapat dikemukakan bahwa dalam intelegensi itu didapati adanya faktor-faktor tertentu yang membentuk intelegensi,inilah makna dari teori faktor. Mengenai faktor-faktor apa yang terdapat dalam intelegensi diantara para ahli belum terdapat pendapat yang bulat.
             Thorndike mengemukakan dalam teori multi faktornya bahwa inteligensi terdiri dari elemen-elemen dan tiap elemen terdiri dari atom-atom dan tiap atom-atom merupakan hubungan stimulus-respon. Jadi suatu aktivitas yang menyangkut inteligensi adalah kumpulan dari atom-atom aktivitas yang berkombinasi satu dengan yang lain nya.
            Menurut spearman intelegensi mengandung dua macam faktor yaitu (1) general ability atau general faktor (faktor G),dan (2) special ability atau spesial faktor (faktor S) . teori faktor speraman dikenal dengan dwi faktor atau two factor theory.
General abilty terdapat pada semua individu tapi berbeda satu dengan yang lain dan special ability merupakan faktor yang bersifat khusus mengenai bidang tertentu.
            Menurut Burt disamping general ability dan special ability masih terdepat faktor yang lain lagi yaitu common ability atau common faktor atau juga disebut group factor.
Common factor merupakan faktor sesuatu kelompok kemampuan tertentu.
            Sedangkan thurstone mempunyai mempunyai pandangan yang berbeda lagi, menurut thurstone dalam inteligensi adanya faktor sebagai berikut :
1.      s (spasial relation) yaitu kemampuan untuk melihat atau mempersepsi gambar dengan dua atau tiga dimensi menyangkutn jarak
2.      p (perceptual speed) yaitu kemampuan yang berkaitan dengan kecepatan dan ketepatan dalam memberikan judging mengenai persamaan dan perbedaan atau dalam respon terhadap apa yang dilihat secara detail.
3.      V (verbal comprehension) yaitu kemampuan yang menyangkut pemahaman kosakata,analogi secara verbal dan sejenisnya
4.      W (word fluency) yaitu kemampuan yang menyangkut  dengan kecepatan berkaitan kata-kata,anagram,dsb
5.      N (number facility) yaitu kemampuan berkaitan dengan kecepatan dan ketepatan dalam berhitung
6.      M (associate memory) yaitu kemampuan yang berkaitan dengan ingatan
7.      I (induction) yaitu kemampuan yang berkaitan dengan kemampuan untuk memperoleh prinsip




2.3 teori orientasi proses
            Teori ini mendasarkan atas orientasi bagaiman proses intelektual dalam pemecahan masalah. Para ahli lebih cenderung bicara mengenai proses kognitif daripada inteligensi, tetapi dengan maksud hal yang samaTeori proses informasi mengenai inteligensi (information-proccessing theories) mengemukakan bahwa inteligensi akan diukur dari fungsi-fungsi seperti proses sensoris,koding,ingatan,dan kemampuan mental yang lain termasuk belajar dan menimbulkan kembali ( remembering)
2.4 Pengungkapan Intelegensi
Mengenai soal perbadaan intelegensi ada pandangan yang menekankan pada perbedaan kualitatif dan pandangan yang menekankan pada perbedaan kuantitatif.Pandangan yang pertama berpendapat bahwa perbedaan intelegensi individu satu dengan yang lain memang secara kualitatif berbeda yang berarti pada dasarnye memang telah berbada intelegensi individu satu dengan yang lain . Pandangan kedua menitikberatkan pada perbedaan kuatitatif yang berarti perbedaan intelegensi semata – mata karena perbedaan materi yang diterima atau kerena perbedaan dalam proses belajarnya.Kedua pandangan tersebut sangat berlawanan satu dengan yang lain. Perlu diingat bahwa perkembangan manusia itu ditentukan baik oleh pembawaan maupun oleh lingkungan.
Baik pandangan pertama maupun kedua mengakui bahwa individu satu dengan yang lain berbeda dalam segi intelegensinya. Untuk mengetahui taraf intelegensi seseorang dapat digunakan tes intelegensi . dengan tes ini diharapkan dapat mengungkap intelegensi seseorang dan akan dapat diketahui tentang keadaan tarafnya. Tes ini diciptakan oleh Binet.
Tes intelegensi Binet pertama kali disusun dalam tahun 1905, yang kemudian mendapat bermacam – macam revisi baik dari Binet maupun dari para ahli yang lain. Tes itu akhirnya direvisi lagi oleh Binet sendiri pada tahun 1908 sebagia revisi pertama dan tahun 1911 diadakan revisi kedua.Dalam tahun 1916 tes Binet direvisi, dan diadaptasikan disesuaikan penggunaanya di Amerika yang dikenal dengan revisi Terman dari Stanford Unversity dan dikenal dengan Stanford Revision , juga dikenal dengan tes intelegensi Stanford-Binet. Disamping itu juga digunakan pengertian Intellegence Quotien atau disingakt IQ. Untuk memperoleh IQ digunakan rumus IQ = MA/CA x 100 . MA adalah mental age atau umur mental, dan CA adalh chronological age atau umur kronologis, yaitu umur yang sebenarnya.
Pada tahun 1939 David Wcsher menciptakan individual intellegence test, yang dikenal dengan Wechser Bullevue Intellegence Scale atau juga sering dikenal dengan tes intelegensi WB. Klasifikasi IQ-nya adalah :
Very superior               : IQ diatas 130
Superior                       : IQ 120-129
Bright normal                : IQ 110-119
Average                       : IQ 90-109
Dull normal                   : IQ 80-89
Mental defective           : IQ 70-79




BAB III



PENUTUP

3.1 kesimpulan

          Intelegensi mempunyai beberapa banyak pendapat dari para tokoh-tokoh diatas tapi bisa disimpulkan bahwa intelegensi merupakan cara seseorang dalam memecahkan masalah disesuaikan dengan cara individu itu menanggapi respon,menyesuaikan diri dan kemampuan individu dalam mengatasi masalah yang ada . dan inteligensi mempunyai jenis-jenis dalam bidang-bidang nya .

3.2 saran
          Sebagai calon pendidik kita harus mengetahui arti tentang inteligensi dan jenis-jenis dari inteligensi karena itu mempengaruhi cara bagaimana kita mendidik peserta didik sesuai jenis dari inteligensi itu ,karena setiap manusia pasti mempunyai kekurangan dan kelebihan masing-masing .



untuk lebih lengkapnya bisa dilihat di powerpoint disini

Sabtu, 11 Januari 2014

Cara mengembalikan semangat yang hilang jadi super Cara membangkitkan kembali semangat yang menurun tidak hanya penting tetapi WAJIB dilakukan oleh semua orang. Kekalahan, perasaan tersingkir, dan merasa paling sial kadang dialami oleh manusia. Selama hati masih menyatu dengan raja dan ruh belum pergi maka tiap manusia akan merasakan kekecewaan. Semangat kadang memang tiba tiba hilang, bahkan orang yang punya semangat membara juga bisa berubah tanpa daya ketika masalah demi masalah menekan hidupnya. Upaya keras yang berujung pada kegagalan juga bisa menjadi pemicu melemahnya semangat pada diri kita. Tetapi… jangan biarkan energi kekalahan tetap bersemayam, buang pikiran negatif yang dapat membuat seseorang semakin menderita. Disaat semangat down total, mari kita bangun kembali dengan melakukan tips berikut, yang bersumber pada wejangan guru kehidupan. Pertama, ketika semangat berkurang segera bayangkan suatu masa dimana anda sangat hebat dan luar biasa unggul. Ingatlah dan yakinkan diri bahwa itu adalah diri anda sesungguhnya. Kaitkan kesuksesan masa lalu dengan realita saat ini agar energi positif dalam diri tetap mampu menghalau energi negatif yang berusaha menguasai diri. Karena bila energi negatif tetap bersemayam maka jiwa dan raga akan diperbudak olehnya. Yakinkan bahwa anda tetap hebat walau hari ini sedang dikalahkan! Kedua, tinjau kembali kesalahan dan kecerobohan yang mungkin saja anda lakukan, siapa tahu kegagalan yang menjadi penyebab anda tidak semangat adalah akibat ketelodaran anda sendiri.Kumpulkan semua data dan riwayat pendukung dalam coretan kecil agar anda bisa lebih jujur dalam menilai dirì sendiri. Tak perlu berlarut larut untuk memaki diri sendiri, tetapi temukan semua hal yang menjadi penyebab kegagalan anda. Ketiga, tariklah kesimpulan bijak secepatnya, ingat waktu terus bergerak, hari berganti dan tahun akan memaksa anda untuk berubah. Citrakan kembali bahwa anda adalah seorang pemenang yang siap bangkit untuk mengalahkan lawan. Kemalasan dan ketidakdisiplinan harus segera anda tundukkan sebelum menyerang musuh diluar sana. Karena pesaing utama bukan ada dimana mana tetapi itu ada didalam diri kita sendiri. Maka segera hancurkan sisi kemalasan, lenyapkan saat ini juga yang namanya inkosistensi, dan segera rontokkan segala niat yang akan menghancurkan masa depan anda sendiri. Dan tips terakhir untuk membangkitkan semangat yang hilang adalah dengan berani mencoba untuk membuat perbedaan strategi dam memperkuat diri dengan keunggulan tak tertandingi. Maju!!

Jumat, 10 Januari 2014

2.1 IMPLIKASI PENDIDIKAN SEUMUR HIDUP TERHADAP KURIKULUM PELAJAR SEUMUR HIDUP Sebelum diskusi unsur pertama desain kurikulum yang berorientasikan pada pendidikan seumur hidup, patut ditanyakan seperti apakah pelajar seumur hidup itu? Pelajar seumur hidup yaitu sesorang yang belajar dari pengalaman dan belajar seumur hidup. Salah Satu implikasi pendidikan seumur hidup yang paling penting ialah hanya peranan dan ketrampilan guru diharapkan berubah tetapi ide siapa yang disebut guru itu akan diperluas. Sebagai contoh sekelompok orang yang disebut “pendidik” tetapi tidak dikenal sebagai guru dan tidak berfungsi didalam sistem persekolahaan konvensional. Kelompok orang ini mencakup ahli perpustakaan bimbingan dan penyuluhan, dan lain sebagainya, dan ahli-ahli yang bekerja di museum, ahli-ahli yang bekerja di kebun binatang (ahli purbakala, ahli burung dan sebagainya). Ahli pendidikan diasosiasi professional, trainning officer di pabrik-pabrik atau diangkatan bersenjata, pekerja social. Dalam pembahasan ini, jawabannya akan dinyatakan dengan menggunakan istilah kejiwaan. Kerangka yang akan digunakan model tiga pihak yang sudah sering kali disinggung sebelumnya, pelajar seumur hidup dapat dilihat secara kejiwaan dalam segi intelektual, kognitif dan motivasi/ sosio afektif. Dalam domain intelektual dan kognitif, bahkan berfungsi untuk menganalisis konsep pendidikan seumur hidup dan outline jalannya pertumbuhan kejiwaan. Outline itu menunjukan pelajar seumur hidup menganggap bahwa pendidikan adalah segala sesuatu yang diperoleh dari pengalaman dan berlangsung seumur hidup. Pendidikan untuk menghadapi suatu perubahan, karena perjalanan hidup kita di penuhi dengan kemungkinan. Sebagai tenunan dalam komulatif secara terus menerus. Dan pengetahuan sekarang berfungsi sebagai basis untuk pertumbuhan kognitif (pengetahuan) berikutnya. Pelajar akan menghubungkan informasi baru kedalam kerangka umum yang sudah ada, dan terus menerus mengintegrasikan pengetahuan barunya kedalamnya. Pelajar akan dilengkapi dengan teknik-teknik mendapatkan pengetahuan dan secara keseluruhan akan menyadari adanya sumber pengetahuan di luar kelas. Terlebih penting, mereka akan diterampilkan dalam menggunakan pengetahuan. Mereka diharapkan memahami bahwa pengetahuan dan informasi adalah network yang berkembang bahwa kita hidup dalam dunia yang sedang berubah, didalamnya terdapat bagian yang terus menerus yang bersambungan. Ini berarti, meskipun mereka mengembangkan keahlian khusus relative dalam bidang terbatas, namun kedudukan spesialisasi hanya nomor dua dalam konsep dasar yang luas. Dalm pembicaraan motivasi, pelajar seumur hidup adalah sesorang yang mengembangkan kemampuan untk dapat dimotivasi secara positif oleh kebutuhan agar belajar lebih banyak. Motivasi positif itu, dapat dilihat tidak pada tingkat urutan usia dalam diri individu tertentu, disebut integeritas vertical. Juga dapat dilihat manifestasi positif terhadap belajar dalam banyak lingkungan kehidupan, disebut integeritas horizontal, yaitu integrasi antara pendidikan dengan sebagian aspek besar kehidupan, seperti rumah, pekerjaan, waktu senggang dan sebagainya. Pelajar seumur hidup akan terus menerus mencari perubahan, sesuatu dan pertumbuhan person dijalankan dengan sengaja, teratur dan berencana yang bertujuan untuk mengaktualisasikan potensi dirinya berupa sikap, tindak dan karya tanpa bantuan orang dalam upaya untuk memperoleh lapangan pekerjaan dan untuk meningkatkan mutu dan taraf hidupnya. Dalam domain sosio afektif, pelajar seumur hidup diharapkan untuk meliht diri mereka sendiri sebagai pelajar seumur hidup secara vertical, dan juga hubungannya dengan berbagai macam segi kehidupan secara horizontal. Belajar berkelanjutan akan memperbaiki image sendiri, dan akan melahirkan pengalaman-pengalaman emosional positif dalam hubungannya dengan teman-temannya, mereka akan tertarik memainkan peranan social baru bersedia untuk meninggalkan status social yang sudah mapan untuk mengembangkan keanggotaan kelompok baru dan sebagainya. 2.2 DAPATKAH SEKOLAH DAPAT MENGEMBANGKAN PELAJAR SEUMUR HIDUP Sudah dibahas dalam bab terdahulu bahwa motivasi, kognitif dan sosio affektif membuat individu dinamis dan mengembangkan sifat-sifat yang menggerakan proses pertumbuhan sepanjang hidup. Pertanyaan penting dalam analisis ini apakah proses perkembangan dapat menerima perubahan sebagai akibat pengelolaan disengaja dan strukturalisasi pengalaman sepanjang urutan perkembangan kejiwaan dengan jenis persekolahan yang dialami seseorang jika tidak ada hubungan seperti itu pembicaraan tentang perbedaan organisasi kurikulum seluruhnya akan menjadi sia-sia dengan alasan itu tepat untuk dinyatakan apakah perkembangan kejiwaan dipengaruhi oleh jenis pengalaman yang berbeda atau apakah jalannya perkembangan ditentukan sebelumnya dan tidak dapat diletakan jika perkembangan mengikuti built in blue print akan sedikit sekali berbeda point dalam mendesain sistem pendidikan yang berbeda. 2.3 SIFAT KEJIWAAN PELAJAR SEUMUR HIDUP 2.3.1 Kognitif (pengetahuan) nya diperlengkapi dengan baik • Kenalnya dengan bermacam-macam disiplin dan keterampilan • Kenal dengan struktur pengetahuan tidak hanya sekedar fakta • Terampil menghadapi alat-alat belajar dan struktur disiplin terhadap tugas-tugas baru • Sadar adanya hubungan antara keterampilan kognitif dan kehidupan nyata 2.3.2 Mempunyai kemampuan yang tinggi untuk didik • Memiliki strategi belajar yang berbeda-beda • Dapat belajar dalam keadaan yang berbeda-beda, seperti seorang diri dalam kelompoknya dan sebagainya • Diperlengkapi dengan keterampilan belajar dasar yang baik seperti membaca mengobservasi, mendengarkan dan dapat mengerti non verbal • Trampil dalam menggunakan banyak macam belajar seperti bahan cetak berfikir kritis dan interpelasi data • Trampil dalam mengidentifikasikan kebutuhan belajarnya 2.3.3 Termotivasi untuk menjalankan proses belajar seumur hidup • Sadar akan kecepatan perubahan dan efeknya terhadap kehidupan sosial pengetahuan dan keterampilan kerja • Sadar bahwa sekolah formal hanya permulaan belajar dalm kehidupan • Sadar akan tanggung jawab pribadi untuk memperoleh pengetahuan baru keterampilan dan sikap • Sadar akan sebagai alat penting untuk pertumbuhan pribadi dan masyarakat 2.4 LINGKUNGAN DAN PERKEMBANGAN KEJIWAAN Pada tahun 1973 Hunt menunjukan pandangan terdahulu mengenai apa yang disebut dengan perkembangan kejiwaan modern yang menopang pendapat bahwa jalannya perkembangan relative sudah dilakukan meskipun para penulis seperti Galton pada tahun 1869 mengikuti efek pengalaman pada pertumbuhan kejiwaan namun terdapat kepercayaan sangat kuat bahwa potensi orang untuk bervariasi sebagai akibat pengalaman sangat sedikit dengan kata lain lingkungan dapat dipercaya sedikit pembelokan jalannya perkembangan yang sudah ditetapkan oleh Heredy pandangan ini termasuk apa yang dikatakan Hunt sabagai kepercayaan “pedetermined development” Sebelum perang dunia ke-2 bukti-bukti mulai dikumpulakn untuk menunjukan bahwa perkembangan jauh dari yang sudah ditentukan. Bukti itu sering kali diasosiasikan dengan perubahan drastis pada performance intelektual anak-anak yang mengalami perubahan sangat besar. Kondisi lingkungan mereka tinggal dalam tahun terakhir, telah dikembangkan sejumlah besar bukti yang menunjukan bahwa belajar terjadi dalam sehari-hari pertama kehidupan ketidakadaanpergaulan sosial pada hari-hari pertama kehidupan menyebabkan tidak simpati dan kerusakan social pada anak-anak kecil. Ketidak addan pengalaman sosial pada tahun-tahun pertama kehidupan karena bulan akan berakibat kekurangan kemampuan visual secara permanen dan sebagainya. Penenrimaan pendapat bahwa perkembangan kejiwaan dapat di modifikasi oleh pengalaman, termasuk apa yang dikatakan oleh Hunt. Pentingnya pengalaman pada tahun-tahun permulaan kehidupan manusia bagi pembentukan perkembangan dimasa mendatang. Bukti bahwa adanya plastisitas perkembangan sekarang ini sangat kuat sekali. Lebih jauh dari itu tampaknya plastisitas meliputi rentangan fungsi kejiwaan yang sangat luas, umpamanya green berg, uzgaris, dan hunt pada tahun 1968 menunjukan bahwa kemampuan untuk mengkoordinasikan fungsi penglihatan dan pegangan pada waktu bayi menjangkau dan memegang objek yang dilihat dengan perhatian matanya, dimodifikasi untuk pengalaman aktivitas memegang dan melihat sebelumnya. Penggunaan fungsi sensor aktif motorik itu ditunjang besar sekali oleh apa yang disebut hunt praktis. Hunt dan kawan-kawannya juga menunjukan perkembangan secara jelas bahkan sangat mendasar, yaitu tentang kemampuan kognitif yaitu pemahaman anak terhadap objek eksternal yang ada, bahkan ketika objek itu tidak dapat dilihat. Kemampuan kognitif berhubungan erat sekali dengan menguasai kehidupan lingkungan yang memberikan kesempatan untuk menguasai ketrempilan kognitif. Dengan demikian ketrampilan kognitif seseorang tidak akan berkembang dengan baik jika tidak ada kesempatan untuk mengembangkannya. Aspek lain kejiwaanyang dipengaruhi oleh pengalaman termasuk kemampuan untuk membentuk kasih sayang social, kemampuan untuk mengira kedalam dan mengenal bentuk, motivasi untuk mencari kesenangan dan menghindari mempengeruhi tingkah laku orang lain ada tidaknya “ketegangan kkognitif” dalam membuat keputusan menghadapi konflik dan sebagainya implusive “orak kognitif” dan sebagainya. Pertanyaan pertama, berapa lama plastisitas berlangsung merupakan salah satu pertanyaan penting untuk teori pendidikan seumur hidup, kedua dan issu kunci yang berhubungan erat sekali adalah tentang tingkat kelangsungan plastisitas pada usia tertentu dibandingkan dengan jumlah maksimum. Plastisitas yang sudah ada, koes tlen pada tahun 1964 telah mengemukakan bahwa seluruh proses perkembangan dari saat konsepsi dan seluruh pengalaman dan adaptasi berikutnya merupakan hilangnya plastisitas. Kendatipun demikian hunt pada tahun 1973 menyimpilkan bahwa plastisitas berlangsung seumur hidup, ttapi ada bahkan sampai tua renta. Perkembang kemampuan intelektual menyatakan terdapat pertumbuhan yang cepat pada usia awal kehidupan anak-anak,puncak pertumbuhan relative pada usia muda, setelah itu mengalami periode pertumbuhan yang stabil dan akhirnya pertumbuhan merosot dengan cepat pada usia lanjut. 2.5 PLASTISITAS PERIODE KRITIS DAN INTERAKSI Plastisitas adalah konsep utama dalam pendidikan. Konsep pendidikan sebagai alat untuk mengembangkan individu yang belajar selama hidupnya. Jika perkembangan telah ditentukan sebelumnya itu benar, tampaknya Cuma sedikit sekali diskusi mengenai bagaimana pendidikan di organisir. Untuk tujuan persekolahan sekarang, yang diperlukan adalah pengertian adanya plastisitas dan efek meningkatnya usia terhadap plastisitas konsep penting dalam kontek ini adalah tentang “periode kritis” meskipun seluruh area periode menjadi sasaran perdebatan kejiwaan dan walaupun beberapa konsepsi peiode kritis itu ada namun prinsip intinya dapat dinyatakan secara sederhana. Ringkasnya kepercayaan adanya periode kritis menyatakan bahwa terdapat tingkat usia dimana jenis pengalaman tertentu akan berefek maksimum terhadap anak-anak yang sedang berkembang suatu bahan perdebatan apakah pengalaman diluar bats usjia kritis dapat berkurang efeknya atau apakah efeknya akan minimal mendekati nol jika pengalaman penting terjadi diluar batas umm optimal. Kepercayaan akan adanya jumlah besar periode kritis dalam usia persekoalahan onvensional, barangkali menjadi satu artikel kepercayaan implisit dalam organisasi pendidikan sekarang. Terdapat alasan kuat untuk mempercayai bahwa, paling tidak fenomena adanya sesuatu seperti periode kritis dapat dilihat besar dalam perkembangan kejiwaan manusia. Dan begitu juga besar sejumlah besar penelitian terhadap tikus, anjing dan kera menunjukan adanya alasan kuat untuk mempercayai bahwa macam-macam aktivitas dalam kehidupan manusia seperti mengenali bentuk dan potongan, mengira kedalaman, kemampuan untukk membentuk hubungan afektif hangat dengan orang lain, dan menyenangi corak kognitif tertentu, seluruhnya berhubungan dengan waktu. Ketidak adaan pengalaman yang terdapat pada tahun-tahun sebelumya akan membawa kerusakan permanen dan tidak dapat ditolak dalam tingkah laku serupa denngan itu anak-anak terpisah dari figur seorang ibu selama periode tertentu dalam tahun-tahun pertama kehidupan menunjukan kerusakan permanen untuk menciptakan hubungna sosial. Seperti study dalam pieget yang dilanjutkan oleh berner dalam bidang perkembangan kognitif munculunsure perkembangan kejiwaan yang amat penting. Unsur itu dinyatakan sebagai fenomena interaksi. Jelas bahwa tidak hanya jalan perkembangan kejiwaan secara derastis yang dipengaruhi oleh pegalaman tetapi pengalaman pada suatu tingkat usia berikutnya juga mempengaruhi kejiwaan. 2.6 MODEL PENGARUH GURU Sekolah adalah salah satu lingkungan tempat anak berinteraksi. Guru adalah aspek penting dalam persekolahan. Guru bisa mempengaruhi perkembangan secara langsung melalui pola penghargaan dan hukuman dalam merespon jenis tingkah laku murid yang berbeda-beda. Cara guru berdiskusi juga mempengaruhi murid. Jadi guru dalam kenyataannya dapat menetapkan iklim yang dapat membantu siakp dan tingkah laku tertentu serta menekan yang lainnya, pertama motivasi belajar, bahwa belajar adalah aktifitas yang berharga., konsep disekolah sebagai intruksi yang dapat menolong kedua faktor kognitif sekarang sudah dikembangkan dengan pesat pada waktu anak-anak masuk sekolah. Namun dalam system pendidikan sekarang aspek bukan kogniitif tidak banyak dimodivikasi oleh pengalaman disekolah dengan kata lain, sikap, motivasi dan aspek yang menjadi sumber utama perbedaan prestasi murid diperoleh dari luar sekolah.

Kamis, 09 Januari 2014


kontribusi Pendidikan Luar Sekolah dalam Pembangunan Pendidikan  Nasional/SDM
Kita menyadari bahwa SDM kita masih rendah, dan tentunya kita masih punya satu sikap yakni optimis untuk dapat mengangkat SDM tersebut. Salah satu pilar yang tidak mungkin terabaikan adalah melalui pendidikan nonformal atau lebih dikenal dengan PLS.

Seperti kita ketahui, bahwa rendahnya SDM kita tidak terlepas dari rendahnya tingkat pendidikan masyarakat, terutama pada usia sekolah. Rendahnya kualitas SDM tersebut disebabkan oleh banyak hal, misalnya ketidakmampuan anak usia sekolah untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, sebagai akibat dari kemiskinan yang melilit kehidupan keluarga, atau bisa saja disebabkan oleh oleh angka putus sekolah, hal yang sama disebabkan oleh factor ekonomi

Oleh sebab itu, perlu menjadi perhatian pemerintah melalui semangat otonomi daerah adalah mengerakan program PLS tersebut, karena UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional secara lugas dan tegas menyebutkan bahwa PLS akan terus ditumbuhkembangkan dalam kerangka mewujudkan pendidikan berbasis masyarakat, dan pemerintah ikut bertanggungjawab kelangsungan PLS sebagai upaya untuk menuntaskan wajib belajar 9 tahun.


Rencana Strategis untuk mendukung penyelenggaraan PLS menurut Isjoni (2004) baik untuk tingkat propinsi maupun kabupaten kota adalah :
1. Perluasan pemerataan dan jangkauan pendidikan anak usia dini;
2. Peningkatan pemerataan, jangkauan dan kualitas pelayanan Kejar Paket A setara SD dan B setara SLTP;
3. Penuntasan buta aksara melalui program Keaksaraan Fungsional;
4. Perluasan, pemerataan dan peningkatan kualitas pendidikan perempuan (PKUP), Program Pendidikan Orang tua (Parenting);
5. Perluasan, pemerataan dan peningkatan kualitas pendidikan berkelanjutan melalui program pembinaan kursus, kelompok belajar usaha, magang, beasiswa/kursus; dan
6. Memperkuat dan memandirikan Pendidikan Keterampilan Berbasis Masyarakat (PKBM) yang telah melembaga saat ini di berbagai daerah.


Selain itu menurut Isjoni (2004), dalam kaitan dengan upaya peningkatan kualitas dan relevansi pendidikan, maka program PLS lebih berorientasi pada kebutuhan pasar, tanpa mengesampingkan aspek akademis. Oleh sebab itu Program PLS mampu meningkatkan pengetahuan, keterampilan, profesionalitas, produktivitas, dan daya saing dalam merebut peluang pasar dan peluang usaha, maka yang perlu disusun Rencana strategis adalah :

1. Meningkatkan mutu tenaga kependidikan PLS;
2. Meningkatkan mutu sarana dan prasarana dapat memperluas pelayanan PLS, dapat meningkatkan kualitas proses dan hasil;
3. Meningkatkan pelaksanaan program kendali mutu melalui penetapan standard kompetensi, standard kurikulum untuk kursus;
4. Meningkatkan kemitraan dengan pihak berkepentingan (stakholder) seperti Dudi, asosiasi profesi, lembaga diklat; serta
5. Melaksanakan penelitian kesesuain program PLS dengan kebutuhan masyarakat dan pasar. Demikian pula kaitan dengan peningkatan kualitas manajemen pendidikan.

Strategi PLS dalam rangka era otonomi daerah, maka rencana strategi yang dilakukan adalah :
1. Meningkatkan peran serta masyarakat dan pemerintah daerah;
2. Pembinaan kelembagaan PLS;
3. Pemanfaatan/pemberdayaan sumber-sumber potensi masyarakat;
4. Mengembangkan sistem komunikasi dan informasi di bidang PLS;
5. Meningkatkan fasilitas di bidang PLS

Sasaran PLS lebih memusatkan pada pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan berkelanjutan, dan perempuan. Selanjutnya PLS harus mampu membentuk SDM berdaya saing tinggi, dan sangat ditentukan oleh SDM muda (dini), dan tepatlah PLS sebagai alternative di dalam peningkatan SDM ke depan. PLS menjadi tanggung jawab masyarakat dan pemerintah sejalan dengan Pendidikan Berbasis Masyarakat, penyelenggaraan PLS lebih memberdayakan masyarakat sebagai perencana, pelaksanaan serta pengendali, Pemerintah daerah propinsi, kabupaten dan kota secara terus menerus memberi perhatian terhadap PLS sebagai upaya peningkatan SDM, dan PLS sebagai salah satu solusi terhadap permasalahan masyarakat, terutama anak usia sekolah yang tidak mampu melanjutkan pendidikan, dan anak usia putus sekolah..

Model Pendidikan Luar Sekolah
Dalam beberapa tahun terakhir, homeschooling (HS) merebak di beberapa kota di Indonesia. Tak hanya untuk kalangan berada, sekolah rumah itu juga bakal bisa diterapkan terhadap keluarga tak mampu. Belum ada data pasti berapa jumlah anak yang belajar atau bersekolah di rumah alias ber-homeschooling di Indonesia. Namun, saat ini kian banyak orang tua yang berminat memberikan pembelajaran di rumah. Apalagi HS sebagai salah satu pendidikan alternative sudah terakomodasi dalam Sistem Pendidikan Nasional.

Undang-Undang Sisdiknas pasal 27 ayat 1 Di sana disebutkan, “Kegiatan pendidikan informal yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri”. Ayat 2 menyebutkan, “Hasil pendidikan sebagaimana dimaksud ayat 1 diakui sama dengan pendidikan formal dan nonformal setelah peserta didik lulus ujian sesuai dengan standar nasional pendidikan”. Melalui payung hukum itu, mereka yang belajar di rumah sudah tak perlu was-was tentang legalitas sistem pembelajaran mereka.
Namun demikian, citra homeschooling di masyarakat masih beragam. Sebagian menganggap homeschooling mahal. Pasalnya, berbagai macam fasilitas harus dipenuhi sendiri. Misalnya alat-alat laboratorium yang jamaknya disediakan sekolah. Menanggapi hal itu, Daniel M. Rosyid, ketua Dewan Pendidikan Jawa Timur dalam artikel Pontianak Post Online (Andriayani, 2007), menegaskan bahwa siapa pun dapat ber-homeschooling. Menurutnya, model pendidikan rumah itu justru hadir bagi mereka yang tak mampu dalam hal finansial. Misalnya, keluarga miskin (gakin). Sebab, anak-anak miskin tidak perlu mengeluarkan ongkos seragam sekolah, SPP, maupun uang gedung. Dengan demikian, jatuhnya biaya lebih murah dibandingkan pendidikan formal.

Peranan Teknologi Pendidikan dalam Pendidikan Luar Sekolah

Perlunya Perubahan Paradigma Pendidikan Luar Sekolah
Bagi negara maju dan negara berkembang, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta sistem informasi yang begitu cepat mendorong berbagai aspek, khususnya sistem pendidikan untuk mengubah visi, misi dan strateginya secara revolusioner. Revolusi pendidikan berarti secara totalitas menjabarkan konsep Teknologi Pendidikan (TP) dalam berbagai bentuk dan tingkatan implementasinya, sehingga efisiensi dan efektivitas penggunaan sumber daya yang ketersediannya sangat terbatas dapat tercapai, dan pendidikan yang sesuai dengan kebituhan masyarakat dapat disediakan.


Indikator yang menunjukan bahwa PLS merupakan sumber ekonomi pendidikan, :
1. Tingkat efisiensi dan efektifitas PLS sangat tinggi, karena hampir semua PLS dirancang dan dilakukan berdasarkan kebutuhan masyarakat
2. Secara fungsional, kaitan PLS dengan pendidikan jalur sekolah adalah sebagai substitusi, suplemen dan komplemen pendidikan sekolah.
3. Lulusan PLS baik yang berasal dari pengangguran, pegawai yang ingin meningkatkan profesi dan keterampilannya menjadikan mereka dapat bekerja di dalam negeri dan luar negeri
4. Siswa dari jalur sekolah yang kemampuan akademik dan keterampilan kejuruannya belum memadai, setelah mengikuti kursus teretntu menjadi siswayangberprestasi
5. Para penyelenggara PLS dapat memperoleh keuntungan dan dapat memperkerjakan cukup banyak pegawai untuk mengelola lembaga PLS , dan mereka merupakan swadaya murni masyarakat tanpa bantuan pemerintah.


Masalah Penerapan Teknologi Pendidikan dalam Pendidikan Luar Sekolah
Media massa khususnya TV dan media cetak mestinya lebih banyak atau dapat dimanfaatkan untuk program-program pendidikan, yang secara tidak langsung merupakan penerapan TP dalam PLS.  

Selain media massa, tutorial merupakan salah satu metode pembelajaran yang sudah dilakukan sejak zaman dulu kala. Belajar pada jalur PLS lebih menekankan pada peran belajar tutorial, kelompok dan mandiri sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan dan secara konseptual sangat positif. Namun karena tutor bukan seseorang yang secara khusus dididik sebagai tutor, tetapi guru yang merangkap tutor, sehingga meraka memiliki keterbatasan dalam pemahaman dirinya sebagai tutor.

Program Paket A setara SD dan Paket B setara SLTP dan paket A setara SLTA juga semakin kehilangan pamornya, karena semakin sedikit warga masyarakat yang tidak bersekolah di SD dan SLTP yang tertarik menjadi peserta belajar di kedua program tersebut. Satu-satunya program PLS yang sangat dinamis dalam perkembangan kebutuhan masyarakat, ilmu pengetahuan den teknologi ialah kursus-kursus yang diselenggarakan masyarakat. Bahkan sekarang banyak lembaga kursus yang berkerjasama dengan negara lain dan telah menyusun standar kompetansi internasional, sehingga tamatannya diakui oleh negara tersebut dan dapat bekerja di negara asing lainya.

analisa swot tik pls

Posted by cempaka20 On 04.27

ANALISA SWOT “LPK SARASWATI”



Eksternal





Internal

OPPORTUNITY
1.      Hasil yang di dapat dengan mengikuti kegiatan ini cukup tinggi
2.      Memudahkan lulusan dapatkan pekerjaan/wirausaha
3.      Lpk ini membantu mempromosikan produk dari lulusan yang berwirausaha
THREATH
1.      Keterbatasan peserta didik akan sdm
2.      Para lulusan kurang memiliki kemampuan untuk berwirausaha secara mandiri
3.      Lpk saraswati tempatnya kurang strategis di pinggir kota jadi banyak masyarakat yang kurang tahu akan lpk ini
STRENGTH
1.      Tenaga pendidik memiliki kecakapan yang ahli dalam bidang menjahit
2.      Motivasi tinggi dari pendidik menumbuhkan jiwa kemandirian
3.      Promosi yang kuat lewat teknologi informasi dan komunikasi seperti internet,koran dan radio
S1-O1 : Dengan tenaga pendidik yang memiliki kecakapan dalam bidang menjahit menghasilkan lulusan lpk ini mendapatkan keterampilan dan hasil yang cukup tinggi
S2-O2 : motivasi yang tinggi dari pendidik menghasilkan lulusan yang memiliki keterampilan untuk bekerja di tempat garmen ataupun berwirausaha
S3-O3 : lpk saraswati membantu mengembangkan dan mempromosikan hasil produk lulusan nya lewat teknologi informasi dan komunikasi
SI-T1 : tenaga pendidik dari lpk saraswati memliki kecakapan yang ahli dalam bidang menjahit membantu para peserta meningkatkan sdm nya di bidang menjahit
S2-T2 : tenaga pendidik memberi motivasi tinggi bagi peserta didik untuk mengembangkan jiwa berwirausaha secara mandiri
S3-T2 : lpk saraswati melalui teknologi informasi dan komunikasi dapat dikenal oleh masyarakat luas melalui internet,koran dan radio
WEAKNESS
1.      Mahalnya biaya pelatihan menyebabkan minat warga kurang antusias
2.      Peserta didik kebanyakan anak putus sekolah dan pengangguran
3.      Lulusan cenderung pasif dan bekerja ditempat berkembang
W1-O1 : hasil yang diikuti dari kegiatan ini cukup tinggi sehingga mahalnya biaya pelatihan sebanding dengan hasil yang didapat
W2-02 : dengan banyak nya peserta didik yang merupakan anak putus sekolah dan pengangguran lpk saraswati menekan angka pengangguran bagi para lulusan untuk mendapat pekerjaan dan berwirausaha
W3-O3 : LPK ini membantu mempromosikan produk lulusan sehingga meningkatkan jiwa wirausaha mereka untuk aktif dan berkembang .
W2-T1 : tenaga pendidik meningkatkan sdm dari peserta didik  untuk mendapatkan keterampilan
W2-T2 : tenaga pendidik lpk meningkatkan keterampilan bagi peserta didik untuk mendapatkan pekerjaan dan beriwrausaha
W3-T2 : tenaga pendidik meningkatkan motivasi peserta didik untuk mendapatkan pekerjaan dan berwirausaha yang aktif dan berkembang



  • Blogger news

  • Blogroll